Filosofi Handuk

Ivan Taufiza

Bapak dan anak laki-lakinya yang berusia 15 tahun sedang duduk di tepi kolam renang, matahari pagi memancarkan sinarnya dengan lembut.

Di antara mereka berdua, terbentang sebuah handuk yang telah menemani banyak momen dalam hidup mereka. Bapak tadi kemudian mengambil handuk itu dan membungkus tubuhnya yang basah.

Bacaan Lainnya

Anaknya menatapnya dengan mata berbinar. “Bapak, mengapa handuk ini begitu penting?” tanyanya.

Bapak tersenyum. “Handuk ini bukan hanya sekadar kain, Nak. Ia adalah saksi bisu dari setiap renang kita, dari setiap tawa, bahagia dan tangisan yang kita bagikan. Handuk ini juga mengajarkan kepada kita beberapa hal yang sangat penting dalam kehidupan.”

Sang Bapak kembali melanjutkan ceritanya, ”Pelajaran pertama, seperti halnya handuk yang baik, ia harus dapat menyerap air dengan cepat, hal ini mengajarkan kepada kita untuk responsif terhadap tantangan atau hambatan dalam kehidupan. Kita harus dapat menyerap pengetahuan, pengalaman, beradaptasi, dan belajar seiring berjalannya waktu.”

”Kemudian… ” Lanjut Bapak. ”Setelah selesai digunakan, handuk perlu dicuci dan diperbarui agar segar kembali. Hal ini mengajak kita untuk merenung, membersihkan dan memperbaharui pemahaman kita tentang keyakinan, tindakan, dan pengalaman yang telah kita lewati. Kita harus selalu memikirkan, mempertanyakan, dan mencari kejelasan apa tujuan dan arti hidup kita di dunia ini.”

Anaknya mengangguk, menyerap kata-kata Bapaknya. “Baik Bapak?”

Sambil membelai kepala dan memeluk tubuh anaknya, sang Bapak meneruskan nasihatnya ”Terakhir… Dalam pelukannya yang sunyi, handuk mengajarkan kita sebuah pelajaran tentang keseimbangan. Handuk setia melayani kita secara seimbang dan tidak memihak, selalu memperlakukan setiap momen dengan penerimaan yang sama lembutnya, baik handuk itu kita gunakan untuk membersihkan wajah di pagi hari atau bahkan membungkus pantat setelah mandi.”

Kali ini sang Anak tertawa lepas. “Hahahahaha… Benar juga ya Pak”

Bapak menjelaskan, “Ya, Nak. Seperti handuk yang selalu siap memberikan kenyamanan setelah kita berenang, kita juga harus mencari keseimbangan dalam segala hal. Keyakinan, tindakan, dan pengalaman kita, semuanya harus seimbang. Jangan terlalu keras pada diri sendiri, tapi juga jangan terlalu lemah. Seperti handuk yang tidak memihak, kita harus menerima setiap momen dengan lembut.”

Anaknya menatap handuk itu dengan penuh perenungan. “Jadi, handuk ini mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan?”

Bapak mengangguk. “Iya, Nak…”

Anaknya tersenyum. “Lalu bagaimana kalau kita terjebak dalam kehidupan?”

Bapak menepuk pundaknya. “Ambillah handuk segar, Nak. Pakai dan gunakan handuk itu, bungkus dan hangatkan dirimu, rasanya seperti menekan tombol reset untuk jiwa kita. Handuk ini selalu siap memberikan pelayanan tanpa keluhan, dan kita pun bisa merasakan kehangatan yang menyenangkan.”

Mereka berdua duduk di tepi kolam, merenung tentang handuk yang menghubungkan mereka dengan begitu banyak kenangan. Ternyata handuk itu telah mengajarkan pelajaran tentang responsif, refleksi dan keseimbangan, tentang kehidupan, dan tentang kesetiaan dan pelayanan yang tak pernah pudar.

“Ingatlah, Nak,” kata Bapak dengan lembut, “ Kita semua hanyalah benang yang sedikit lembab dalam keberadaan kita di semesta luas ini. Semuanya mencari kenyamanan dan kehangatan, seperti saat kita sedang membungkus tubuh dengan handuk ini.”

Seperti halnya setiap benang di dalam handuk, apabila kita semua mampu menempatkan diri kita masing-masing sesuai dengan porsinya maka kita akan dapat memberikan kehangatan dalam kebersamaan yang tak ternilai.

Ivan Taufiza
Praktisi SDM, Penulis Buku Membangun SDM Indonesia Emas dan Tenang Aja

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *