Vaksin Timbulkan Virus Lain dan Berafiliasi dengan Bluetooth Support 5G, Yuk Lihat Faktanya!

  • Whatsapp
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan izin penggunaan darurat atau emergency use of authorization (EUA) untuk Vaksin Sinopharm
Foto Ilustrasi

DNews.id | JAKARTA – Beredar unggahan video di media sosial YouTube sebuah informasi yang menyebutkan Covid-19 bermutasi menjadi virus baru yang lebih berbahaya dan vaksin timbulkan virus lain dari Covid-19.

Dilansir dari turnbackhoax.id, klaim Covid-19 bermutasi menjadi virus baru yang lebih berbahaya dan vaksin timbulkan virus lain dari Covid-19 adalah tidak benar.

Bacaan Lainnya

Faktanya bahwa Covid-19 adalah virus yang dapat bermutasi menjadi varian baru, namun dengan sifatnya yang sama dan tidak semakin ganas.

Hoaks

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio mengatakan  walaupun sudah ada mutasi Covid-19 menjadi berbagai varian baru, namun sampai saat ini belum ada terjadi perubahan struktur virus sehingga pengobatan dan vaksin saat ini masih tetap efektif.

Ada lagi beredar sebuah unggahan video di media sosial Twitter dengan klaim yang menyebut sejumlah vaksin seperti Astrazeneca, Pfizer, dan Moderna merupakan vaksin yang berafiliasi dengan bluetooth support 5G, kecuali Sinovac.

Faktanya, klaim tersebut adalah salah. Dilansir dari politifact.com, bahan yang digunakan pada vaksin Astrazeneca dapat dilihat pada website Vaccine Knowledge Project dari Oxford University dan tidak terdapat bahan apapun yang dapat menimbulkan sinyal bluetooth ataupun 5G berupa chip.

Pelacak yang terdapat pada vaksin bukanlah berada di dalam vaksin itu sendiri, melainkan pada kotak pengiriman vaksin untuk mencegah pencurian.

Lebih lanjut, Dr. Paul Offit dari vaksinologi University of Pennsylvania menjelaskan bahwa microchip pada vaksin tidak memungkinkan karena pada umumnya microchip berukuran sekitar 0,5 inci sehingga tidak akan bisa melewati jarum suntik.

Adapun perangkat dengan koneksi bluetooth sebagaimana terdapat dalam video juga dapat dimodifikasi namanya oleh pemilik perangkat, sehingga video tersebut tidak memiliki bukti yang kuat serta tidak berdasar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *